Tanggal 7 Juni sudah di depan mata, tinggal beberapa hari lagi aku akan menjadi wali nikah putriku. Sungguh, aku baru tahu bagai mana rasanya deg-degan akan menjadi seorang wali nikah. Aku kira dulu biasa-biasa saja, tapi ternyata tidak. Ada sekelumit perasaan yang aneh, yang bergemuruh di dalam kalbu. Aku sendiri gak tahu bagai mana perasaan tersebut sebenarnya. Yang jelas rasa deg-degan, bahagia, bimbang dan takut bercampur di dada. Deg-degang karena akan menjadi wali, bahagia karena sang anak akan menikah dan menempuh hidup baru dan rasa takut, takut kalau nantinya sang anak tidak bahagia/ tidak di bahagiakan oleh suaminya dan tidak bisa melewati liku-liku kehidupan yang begitu rumit.
Icha, anak papah yang paling besar dan cantik. Papah masih ingat ketika kamu untuk kali pertamanya menangis di dunia ini. kamu begitu lucu nak, cantik dan ayu seperti mamahmu. Saat itu papah langsung memberimu nama Annisa Potapatria yang berarti wanita tiangnya negara, karena papah ingin kamu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bagi agama nusa dan bangsa. Ktika kecil suka main boneka, dan sangat sayang kepada adik-adikmu. Tidak terasa, kini kau sudah besar, sudah dewasa dan sebentar lagi akan ada yang meminang. Papah bahagia sekali, meskipun batin ini belum begitu ikhlas melihatmu pergi dengan orang lain. Namun, meskipun begitu papah tetap menyayangimu seperti yang dulu. Icha pergilah dengan orang yang menyayangimu, raihlah kebahagiaan yang selama ini kamu cita-citakan. Papah ikhlas nak, papah do’akan semoga kamu bisa membangun keluarga yang sakinah mawadah warohmah…Amin.


